P R O F I L

GAMBARAN UMUM

Kabupaten Intan Jaya yang merupakan Daerah Otonomi Baru (DOB) hasil pemekaran dari Kabupaten Paniai berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 54 Tahun 2008, tentang pembentukan Kabupaten Intan Jaya, dengan perhitungan waktu pemekaran sekitar 1.5 tahun. Kabupaten Intan Jaya Jaya terbentuk pada tanggal 29 Oktober 2008 Kabupaten Intan Jaya diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 54 tahun 2008. Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya diarahkan dan ditujukan untuk meningkatkan pelayanan (service delivery) Pemerintah Daerah kepada masyarakat (social community) agar lebih efisien dan responsif terhadap potensi, kebutuhan maupun karakteristik di masing-masing daerah.

Secara umum dari segi topografi, Kabupaten Intan Jaya dapat     dikategorikan     sebagai kawasan pegunungan. Wilayah Intan Jaya terletak di jajaran Pegunungan Tengah Papua sehingga sebagian besar distrik di Intan Jaya bersuhu dingin. Kabupaten Intan Jaya dibentuk pada tahun 2008 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Paniai. Kabupaten ini memiliki luas wilayah ± 790.996,8 Ha ( luas wilayah indikatif tahun 2015). Secara administrasif batas wilayah kabupaten yang terletak di Pegunungan Tengah Papua ini adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara            : berbatasan dengan Kabupaten Waropen

Sebelah Timur Laut   : berbatasan dengan Kabupaten Memberamo Raya

Sebelah Timur           : berbatasan dengan Kabupaten Puncak

Sebelah Tenggara     : berbatasan dengan Kabupaten Puncak

Sebelah Selatan        : berbatasan dengan Kabupaten Mimika

Sebelah Barat Daya   : berbatasan dengan Kabupaten Paniai

Sebelah Barat            : berbatasan dengan Kabupaten Nabire

Letak geografis Kabupaten Intan Jaya berada pada 02o 57’ 19”‑ 03o 54’ 04” LS dan 136o 10’ 21”– 137o 21’ 34” BT (letak indikatif pada tahun 2013). Karakteristik wilayah Kabupaten Intan Jaya terbagi dalam wilayah dataran tinggi yang terdapat di seluruh distrik di Kabupaten Intan Jaya, serta dataran rendah yang sebagian besar berada di wilayah utara yaitu di Distrik Tomosiga, sebagian kecil di Distrik Mbiandoga, Agisiga, dan Hitadipa.

Pada saat awal terbentuk, Kabupaten Intan Jaya hanya memiliki 6 distrik yaitu Distrik Sugapa sebagai ibukota kabupaten, Distrik Hitadipa, Distrik Homeyo, Distrik Wandai, Distrik Mbiandoga, dan Distrik Agisiga. Keenam distrik tersebut terbagi dalam 86 kampung. Seiring perkembangan masyarakat, maka pada tahun 2013 terjadi penambahan 2 distrik yaitu Distrik Ugimba yang merupakan pemekaran dari Distrik Sugapa serta Distrik Tomosiga yang merupakan pemekaran dari Distrik Agisiga. Penambahan distrik tersebut disertai penambahan jumlah kampung menjadi 97 kampung.

Nama Distrik di Kabupaten Intan Jaya

No.DISTRIKIBU KOTANAMA KAMPUNG
1.SugapaBilogaiEmondi, Mindau, Soambili, Yoparu, Yokatapa, Bilogai, Puyagia, Yalai, Mamba, Titigi, Eknemba, Wandoga, Pesiga, Mbilusiga, Ndugusiga, Kumbalagupa, Buwisiga
2.HomeyoPogapaMapa, Bilai Dua Sanepa, Maya, Degesiga, Pogapa, Bamba, Zombandoga, Kobae, Selemama, Kendetapa, Hiyabu, Ogeapa, Bonogo, Agapa, Engganenga, Walagepa, Hugitapa, Bubisiga, Nggagemba, Sanepa, Mbomogo
3.WandaiMbuguloMbugulo, Sabis, Dubandog, Debasig, Debasig, Debasiga Du, Isandog, Mogal, Ja, Hulapuga
4.MbiandogaBugalagaBugalaga, Danggatadi, Biandoga, Yagaito, Kalawa, Yanei, Maniuwo, Tunggapo, Pagamba, Maolagi, Aneya, Kigitadi, Ndabatadi, Mayomataga, Pitadi, Ular Merah
5.AgisigaAgisigaAgisiga, Tausiga, Unabundoga, Mbamogo, Jenetapa Najasiga, Soali, Tambege, Nabia, Danggoa, Kombogosiga
6.HitadipaHitadipaHitadipa, Wabui, Balama, Janamb, Kulapa, Pugisiga, Soagama, Danggomba, Sakumba
7.UgimbaUgimbaUgimba, Bunaopai, Pigaba, Teteopa, Dukendopa, Nggamagae
8.TomosigaTomosigaTomosiga, Bigasiga, Dapiaga, Pewesiga, Hegenagai, Gaimigi, Jawasiga, Diginggobo, Sugulubagala
Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

POTEMSI WILAYAH

Potensi pengembangan wilayah di Kabupaten Intan Jaya jika dilihat dari kondisi wilayah secara keseluruhan, maka ada beberapa aspek yang dapat dikembangkan di Intan Jaya antara lain kawasan pariwisata, kawasan budidaya kehutanan, kawasan budidaya pertanian dan perkebunan serta kawasan budidaya pertambangan.

KAWASAN PARIWISATA

Letak Kabupaten Intan Jaya sangat strategis dari segi kepariwisataan karena berada di lereng Puncak Carstensz sebagai puncak gunung tertinggi di Indonesia. Selain itu, Carstensz merupakan salah satu dari 7 puncak tertinggi dunia yang menarik bagi pendaki gunung dari seluruh dunia. Di samping Carstensz, Kabupaten Intan Jaya juga memiliki beberapa titik potensial untuk pengembangan pariwisata yaitu wisata air garam di pegunungan serta wisata arung jeram yang keduanya juga terletak di Distrik ugimba.

NOPOTENSI WISATALOKASI
1Puncak Gunung CartenzDistrik Ugimba
2Air GaramDistrik Wandai
3Arung JerangDistrik Hitadipa
Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Ketiga titik potensial untuk pengembangan kepariwisataaan di atas karena letaknya di Ugimba, Wandai dan Hitadipa maka sangat potensial untuk dikembangkan dengan sistem paket wisata. Dengan strategi seperti itu, potensi wisata air garam dan arung jeram bisa menjadi peluang untuk pengembangan diversifikasi tujuan wisata selain puncak carstensz.

KAWASAN BUDIDAYA KEHUTANAN

Status hutan di Kabupaten Intan Jaya terbagi atas hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi konversi, hutan produksi terbatas, areal penggunaan lain, taman nasional dan suaka margasatwa.  Sebagian besar  wilayah  hutan di  Kabupaten  Intan  Jaya  masih  asri karena statusnya sebagai hutan yang tidak dapat dimanfaatkan seluas 645.925,50 Ha atau 82% dari total luas wilayah keseluruhan. Status hutan yang tidak dapat dimanfaatkan di Intan Jaya adalah kawasan hutan lindung sebesar 572,768.40 Ha serta kawasan suaka alam seluas 73.157,10 Ha. Sedangkan, total wilayah yang dapat dimanfaatkan hanya seluas 145.070,80 Ha. Akan tetapi luas kawasan hutan pada tahun mendatang bisa saja berubah drastis seiring dengan upaya Pemda Intan Jaya untuk mengubah status hutan menjadi kawasan produktif guna memperlancar pembangunan ibukota di Sugapa ataupun memperlancar ijin pembukaan kawasan pertambangan dan perkebunan.

Arah pengembangan kawasan budidaya kehutanan lebih ditekankan pada kawasan hutan yang sudah termasuk ke dalam status hutan yang dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu, arah pengembangan sebaiknya difokuskan pada kawasan hutan berstatus hutan produksi, hutan produksi konversi serta hutan produksi terbatas. Rencana pembagian kawasan budidaya kehutanan secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Dari tabel di atas, kawasan potensial budidaya kawasan hutan potensi produksi konversi hanya sebesar 2.1% dari total kawasan hutan potensi produksi konversi. Luas tersebut sebanding dengan 0,02% dari total luas wilayah Kabupaten Intan Jaya. Selanjutnya, kawasan potensial budidaya hutan potensi produksi terbatas seluas 40,3% dari total kawasan hutan potensi produksi terbatas. Luas tersebut hanya sebesar 1,14% dari total luas wilayah Kabupaten Intan Jaya keseluruhan. Adapun kawasan potensial budidaya hutan potensi produksi tetap sebesar 95.911,8 Ha atau mencapai 90,4% dari total luas kawasan hutan potensi produksi tetap keseluruhan.  Luas tersebut  sebanding  dengan 12,13%  dari total  luas wilayah  intan  jaya keseluruhan.

KAWASAN BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

Pengembangan Kawasan Budidaya Pertanian dan Perkebunan Saat ini Kabupaten Intan Jaya merupakan pemasok komoditas pertanian dan perkebunan seperti sayuran dan buah-buahan ke luar daerah. Perminggunya, diangkut sekitar 10 ton sayuran dan buah-buahan dari beberapa distrik di Kabupaten Intan Jaya ke luar daerah terutama Tembaga Pura (wilayah kerja PT. Freeport Indonesia). Capaian tersebut dapat ditingkatkan di tahun-tahun mendatang dengan memaksimalkan kawasan yang potensial untuk pengembangan kawasan pertanian dan perkebunan. Adapun kawasan-kawasan yang potensial untuk pengembangan sector pertanian dan perkebunan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Wilayah Kabupaten Intan Jaya sangat potensial untuk pengembangan kawasan tanaman pangan lahan basah dan kering. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 13.952,7 Ha dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan tanaman pangan lahan basah atau sebesar 1,76% dari total luas wilayah Intan Jaya. Luas yang tidak jauh berbeda pada kawasan potensi tanaman pangan lahan kering sebesar 12.564,4 Ha atau sebesar 1,59% dari total luas wilayah Intan Jaya. Akan tetapi, luas kawasan potensi perkebunan jauh lebih kecil yakni hanya sekitar 6.850,9 Ha. Angka tersebut bahkan hanya sebesar 49% dari total luas kawasan potensi tanaman pangan lahan basah. Begitu juga dengan luas kawasan potensi tanaman lahan basah yang hanya sekitar 4.733,9 Ha atau sebesar 0,60% dari total luas wilayah keseluruhan.

KAWASAN PERTAMBANGAN

Wilayah Kabupaten Intan Jaya juga sangat potensial untuk pengembangan kawasan pertambangan. Saat ini sudah teraktivasi beberapa tambang tradisional yang dioperasikan oleh masyarakat setempat. Adapun beberapa Ijin Usaha Pertambangan (IUP) atau non pertambangan rakyat yang sudah disahkan dan akan beroperasi di Intan Jaya pada tabel dibawah

Secara keseluruhan hanya sebesar 280,210.4 Ha atau sekitar 35% dari wilayah Kabupaten Intan Jaya potensial untuk pengembangan kawasan pertambangan, namun dilihat dari tabel di atas, luas kawasan izin perusahaan tambang mencapai 547,821.2 Ha atau 69% dari total wilayah keseluruhan. Perbedaan tersebut terjadi karena kegiatan pertambangan membutuhkan fasilitas pendukung lain seperti kantor, gudang penyimpanan, lahan parker alat berat dan lainnya yang juga membutuhkan wilayah cukup luas.

DEMOGRAFI DAN URBANISASI

Dari sisi demografis, jumlah penduduk di Kabupaten Intan Jaya tidak mengalami perubahan yang signifikan dalam 5 tahun terakhir Pada tabel berikut terlihat bahwa jumlah penduduk Intan pada tahun 2015 sebesar 92.708 jiwa. Naik 4.213 jiwa atau 4,5 persen.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Dalam kurun waktu 5 tahun, rata-rata pertumbuhan penduduk di Kabupaten Intan Jaya setiap tahunnya hanya sebesar 1,12%. Namun, data tersebut juga masih diperdebatkan tingkat validitasnya karena budaya masyarakat Intan Jaya di pedalaman yang tinggal berkelompok, berpindah-pindah serta jauh dari perkotaan sehingga sulit untuk didata. Aspek kependudukan Kabupaten Intan Jaya dapat dianalisis berdasarkan struktur dan sebarannya.

JUMLAH DAN SEBARAN PENDUDUK

Data kependudukan Tahun 2010 menyebutkan Kabupaten Intan Jaya memiliki jumlah penduduk 87.613 jiwa atau 14.150 KK yang tersebar di 6 (enam) distrik, yaitu Distrik Sugapa

20.081 jiwa, Distrik Homeyo 18.408 jiwa, Distrik Wandai 9.521 jiwa, Distrik Mbiandoga 17.874 jiwa, Distrik Agisiga 13.617 jiwa dan Distrik Hitadipa 8.112 jiwa. Sebaran penduduk terbesar berada di Distrik Sugapa (ibu kota kabupaten) yaitu sebesar 22,92% dari total penduduk Kabupaten Intan Jaya. Sementara Distrik Hitadipa memiliki jumlah penduduk terendah yaitu 9,26% dari total penduduk Kabupaten Intan Jaya. Pertumbuhan dan pertambahan penduduk di Kabupaten Intan Jaya tidak mengalami   perubahan yang signifikan setelah Tahun 2010. Kenaikan jumlah penduduk cukup tinggi antara tahun 2012 hingga 2015 terjadi di Distrik Homeyo sebesar 14.738 orang sementara Distrik Hitadipa sebesar 344 orang. Sementara itu, penurunan jumlah penduduk antara tahun 2012 hingga 2015 terjadi di beberapa distrik seperti Distrik Wandai sebesar 801 orang dan Distrik Mbiandoga sebesar 2.763 orang. Sedangkan penurunan jumlah penduduk antara tahun 2012 hingga 2015 didua distrik yaitu Distrik Sugapa sebesar 851 orang dan Distrik Agisiga sebesar 1.126 orang dipengaruhi dengan kebijakan pemekaran distrik pada tahun 2013 silam.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Distrik Sugapa dan Distrik Homeyo yang relatif berdekatan memiliki jumlah peduduk terbanyak. Kedua distrik tersebut memiliki lebih dari setengah total penduduk atau sebesar 58%. Sedangkan, Distrik Ugimba dan Distrik Tomosiga masing-masing hanya sebesar 1,2% dan 1,5% dari total penduduk.

STRUKTUR PENDUDUK

Pada bagian ini dijelaskan mengenai struktur penduduk di Kabupaten Intan Jaya. Struktur penduduk penting untuk mengetahui potensi pengembangan sumberdaya manusia (SDM) di Kabupaten Intan Jaya, selain itu digunakan juga sebagai bahan untuk menentukan prioritas program dan penyediaan layanan dasar. Sehingga data yang disajikan adalah mengenai penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin, penduduk berdasarkan tingkat pendidikan, penduduk berdasarkan agama, dan penduduk berdasarkan etnis.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Berdasarkan jenis kelamin, Kabupaten Intan Jaya masuk dalam kategori ideal. Perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan relatif setara yaitu jumlah penduduk laki-laki sebesar 53% dan perempuan sebesar 47%. Berdasarkan struktur usia, Kabupaten Intan Jaya cukup potensial untuk pengembangan SDM. Hal tersebut dapat diidentifikasi dari besarnya jumlah angkatan kerja yaitu penduduk usia 15-54 tahun mencapai 73,4%. Hal ini cukup baik dalam proyeksi pembangunan di masa depan.  Untuk menggambarkan  potensi tersebut,  dapat  diperjelas melalui grafik ilustrasi dibawah ini.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Pada grafik di atas (Gambar  1.9), dapat terlihat bahwa jumlah laki-laki dan perempuan hampir sebanding  di semua kelompok  usia.  Sementara  itu, kelompok  usia  tidak  produktif/bukan angkatan kerja di atas 54 tahun relatif sangat kecil. Akan tetapi, untuk kelompok usia bukan angkatan kerja dibawah 15 tahun khsususnya usia 5 sampai 14 tahun jumlahnya cukup besar, akan tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah karena usia tersebut tidak berjarak jauh untuk masuk dalam kategori usia angkatan kerja. Sehingga, sebenarnya Kabupaten Intan Jaya bisa dikategorikan masuk dalam daerah yang memiliki bonus demografi atau mayoritas penduduk adalah usia produktif oleh karena itu sangat potensial untuk pengembangan SDM ke depannya.

Dilihat dari variasi etnis, Kabupaten Intan Jaya dihuni oleh 3 etnis besar yaitu Moni, Dani dan Nduga serta tambahan satu etnis yang belum terlalu interaktif dengan etnis lainnya yaitu Boemene (PKPM Universitas Katholik Indonesia Atma Jaya, 2009). Etnis-etnis tersebut kemudian dibagi ke dalam banyak fam. Moni memiliki sekitar 77 fam seperti Sondegau, Belau, Duitau dan lainnya. Begitu juga dengan Dani yang memiliki nama-nama fam seperti Tabuni, Kogea, Lawia, dan lainnya. Sementara nduga memiliki fam seperti Mirip, Wea, Yarinap dan lainnya.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Mayoritas suku Moni bermukim di Distrik Sugapa, dan hampir menghuni setiap kampung seperti Kampung Bilogai, Kampung Puyagiga, Kampung Yokatapa, Kampung Eknemba, Kampung Mamba, Kampung Yoparu, Kampung Mindau dan Kampung Ekmondi. Sementara itu, etnis Dani mendominasi wilayah Ugimba. Etnis Nduga banyak berdiam di Kampung Titigi dan Kampung Ndugusiga pada Distrik Sugapa dan sebagian di Distrik Agisiga.

Saat ini, Kabupaten Intan Jaya sudah banyak “orang pendatang” yang mayoritas bermukim di Sugapa. Mayoritas pendatang selain merupakan orang Papua di luar Kabupaten Intan Jaya, berasal dari etnis Bugis, Toraja, Ambon, Batak dan Jawa. Kebanyakan pendatang bekerja sebagai PNS, guru, dokter, tenaga kesehatan, tenaga honorer di instansi pemerintah, pedagang, tukang ojek, tukang bangunan serta pendulang emas tradisional. Semakin bertambahnya pendatang ke Kabupaten Intan Jaya, mempengaruhi perubahan varian penduduk selain berdasarkan etnis juga penduduk berdasarkan agama. Meskipun tidak signifikan  cukup membuat  variasi  penduduk  menjadi  berdasarkan  agama  menjadi  cukup beragam. Hal ini dikarenakan sebagian pendatang beragama islam, ada juga hindu dan budha.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Mayoritas penduduk di Kabupaten Intan Jaya beragama Kristen yang jumlahnya mencapai lebih dari 75%. Hal tersebut dikarenakan memang mayoritas penduduk asli Kabupaten Intan Jaya beragama Kristen. Selain itu, sebagian penduduk asli dan pendatang juga beragama Katholik sebesar 24%. Kemudian beragama Islam yang mayoritas adalah pendatang sebesar 0,43%. Sementara itu agama Hindu dan Budha masih sangat sedikit masing-masing hanya 2 dan 1 orang.

DISTRIBUSI PENDUDUK

Rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Intan Jaya tidak terlalu tinggi. Hal tersebut dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang relatif sedikit sedangkan luas wilayah yang cukup besar. Secara mendetail, kepadatan penduduk di kabupaten Intan Jaya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

ISU STRATEGIS SOSIAL, EKONOMI DAN LINGKUNGAN

Isu strategis merupakan isu atau hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus berdasarkan analisis situasi dan memiliki dampak luas terhadap suatu pembangunan. Isu-isu tersebut harus dikelompokkan dan mendapatkan prioritas dalam pelaksanaan pembangunan selama lima tahun perencanaan pembangunan. Isu strategis, apabila tidak diantisipasi, akan menimbulkan kerugian yang lebih besar. Demikian pula sebaliknya, jika tidak dimanfatkan akan dapat menghilangkan peluang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Isu strategis dirumuskan melalui identifikasi berbagai permasalahan pembangunan daerah yang bersifat strategis dan diperkirakan dapat mempengaruhi agenda pembangunan dalam lima tahun ke depan. Di samping itu, isu strategis mengacu pada capaian kinerja daerah 5 (Lima) tahun sebelumnya, RTRW, KLHS, mandat nasional dan isu global yang relevan.

KONDISI SOSIAL

Persoalan sosial tidak bisa terhindarkan dari kehidupan bermasyarakat. Begitu pula kondisi sosial di Kabupaten Intan Jaya. Masalah sosial yang terjadi antara lain perkelahian, perjudian, palang-memalang  dan kecanduan minuman beralkohol.  Persoalan  sosial  tersebut  secara langsung berimplikasi terhadap ketertiban masyarakat. Apalagi saat ini dinas-dinas terkait belum optimal melaksanakan program penanganan penyakit sosial. Beberapa masalah sosial yang berakhir dengan sengketa atau konflik sering diselesaikan dengan penyelesaian secara adat. Dalam hal ini, pemerintah daerah belum berperan maksimal dalam pencegahan dan penanganan masalah sosial. Selain persoalan sosial, pemberdayaan masyarakat juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi dinas terkait.

Dalam perencanaan tata ruang, kondisi sosial budaya pada hakekatnya merupakan aspek yang turut mempengaruhi pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan yang terpadu. Eksploitasi bentang alam yang tidak memperhatikan kearifan lokal diduga akan menyebabkan krisis lingkungan. Budaya bermukim masyarakat dengan latar belakang sosial-budayanya telah menghasilkan produk lingkungan binaan sebagai wujud kearifan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam. Pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan melalui proses perencanaan dan perancangan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Penerapan kearifan lokal (local wisdom) merupakan suatu upaya dalam rangka mewujudkan lingkungan binaan yang harmonis dan sustainable melalui pemanfaatan pengetahuan local, pendekatan kontekstual serta pendekatan partisipatif.

Keberadaan wilayah Kabupaten Intan Jaya sangat erat kaitannya dengan keberadaan Kabupaten Paniai sebagai kabupaten induk dari Kabupaten Intan Jaya sebelum pemekaran. Suku yang menempati wilayah ini adalah suku Moni. saat ini masyarakat suku Moni dan beberapa suku lainnya mendambakan agar kelak negeri ini akan berkembang pesat sama dengan daerah-daerah lainnya yang sudah lebih dahulu maju. Suatu hal yang menarik adalah kenyataan bahwa orang-orang Sugapa melalui kebudayaan-kebudayaan mereka sekarang tengah mengalami tahap-tahap perubahan atau perkembangan di berbagai wilayah yang dapat dengan mudah dibaca dan dibandingkan.

Secara umum suku Moni merupakan suku mayoritas yang berada di Kabupaten Intan Jaya yang tersebar di seluruh distrik di wilayah Kabupaten Intan Jaya. Persebaran suku lain yang ada di Kabupaten Intan Jaya terdiri dari suku Wolani, suku Nduga, suku Dani, dan suku Damal. Suku Wolani tersebar sebagian besar di Distrik Mbiandoga, Suku Nduga tersebar di Distrik Agisiga dan sebagian Distrik Hitadipa, sedangkan Suku Dani dan Damal tersebar di Distrik Hitadipa. Kehadiran Kabupaten di tengah-tengah wilayah suku Moni (Kabupaten Intan Jaya) diharapkan mampu memberdayakan serta melindungi kepentingan rakyat pemilik hak kekayaan tambang alam seperti emas, tembaga dan bahan galian lainnya. Masyarakat suku Moni tidak tahu-menahu tentang potensi alam dan proses perubahan arus modernisasi yang sedang terjadi. Diharapkan agar aparat pemerintah di tingkat distrik dan di kabupaten induk yakni Kabupaten Paniai mampu memberikan perhatian dan dukungan demi proteksi terhadap manusia (suku Moni) dan potensi SDA dan budaya lokal di masa mendatang. Perubahan dalam kehidupan ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan dan infrastuktur selalu saja di nanti-nantikan masyarakat di wilayah terisolir pedalaman Papua.

Sampai saat ini, Kabupaten Intan Jaya belum memiliki program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat terutama untuk kelompok marjinal seperti kaum difabel, lansia dan anak yatim piatu. Panti-panti sosial seperti panti asuhan dan panti jompo, belum tersedia di kabupaten ini. Demikian juga dengan program-program pemerintah yang bertujuan meningkatkan pemberdayaan masyarakat kelompok marjinal dan pendampingan bagi mereka. Sejauh ini program yang sudah dilaksanakan adalah bantuan sosial bagi masyarakat miskin.

KONDISI EKONOMI

Angka pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita merupakan indikator ekonomi makro yang memperlihatkan tingkat kesejahteraan masyarakat, kedua angka tersebut berasal dari perkembangan PDRB khususnya PDRB Kabupaten Intan Jaya.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi pada suatu daerah. Oleh sebab itu, PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam satu periode tertentu.

Pemekaran wilayah Kabupaten Intan Jaya dari Kabupaten Paniai menjadikan pembangunan infrastruktur (jalan dan jembatan) di wilayah ini menjadi semakin bergairah, fasilitas kesehatan, gedung perkantoran dan jumlah pegawai terus bertambah seiring dengan proses pembangunan tersebut. Hal ini mendorong adanya aktivitas ekonomi di sektor bangunan dan sektor jasa-jasa yang pada akhirnya meningkatkan peranan kedua sektor tersebut terhadap perekonomian Kabupaten Intan Jaya. Secara konsisten sejak 2011, sektor jasa-jasa menjadi penyumbang terbesar terhadap PDRB sekitar 36%. Sektor pertanian juga terus berkembang sehingga mampu menyumbang PDRB lebih dari 30% per-tahun. Sektor bangunan memberi andil lebih dari 24% pada tahun 2012 dan 2013. Meskipun sektor jasa-jasa dan pertanian secara proporsi dari total PDRB mengalami penurunan namun dari jumlah kontribusi terus mengalami peningkatan. Penurunan persentase sumbangan kedua sektor tersebut dikarenakan pesatnya perkembangan sektor lainnya seperti bangunan serta perdagangan hotel dan restoran.

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran sejak tahun 2011 hingga 2013 mengalami peningkatan sebesar 24%. Sementara itu, meski tidak terlalu besar peranannya dalam perekonomian Intan Jaya,  sektor  pertambangan berpotensi mengalami peningkatan  yang signifikan di tahun‑tahun selanjutnya karena teridentifikasinya    potensi    untuk    pembukaan tambang emas dan tembaga di Kabupaten Intan Jaya. Sektor lain meskipun kontribusinya masih  minim  dibawah  1%  seperti  industri  pengolahan, keuangan,  persewaan  dan  jasa perusahaan serta perdagangan hotel dan restoran berpotensi untuk terus tumbuh seiring dengan perkembangan ekonomi masyarakat di Kabupaten Intan Jaya.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Berdasarkan data di atas rata-rata pertumbuhan PDRB setiap tahunnya antara tahun 2010 sampai 2013 mencapai 26,78%. Akan tetapi, tingkat pertumbuhan PDRB tidak konsisten. Pertumbuhan dari tahun 2011 ke 2012 hanya sebesar 18,78% bahkan pada tahun selanjutnya yaitu 2012 ke 2013 hanya sebesar 12,35%. Angka tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan PDRB dari tahun 2009 ke 2010 yang mencapai angka 44,67% begitu juga pada 2010 ke 2011 yang mencapai 31,33%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi dari segi produksi barang dan jasa di Kabupaten Intan Jaya belum dioptimalisasikan  atau mengalami  pelambatan sejak  tahun  2011.  Meskipun  pertumbuhan PDRB sangat fluktuatif dan tidak proporsional berdasarkan sumbangan per sektor, namun selama tiga tahun (2011-2013), total nilai tambah yang dihasilkan oleh aktifitas sektor-sektor ekonomi yang berada diwilayah Kabupaten Intan Jaya terus mengalami peningkatan.

Basis data lain yang juga penting untuk mengetahui kondisi ekonomi adalah fluktuasi angka inflasi setiap tahunnya. Inflasi diperlukan untuk mengidentifikasi angka kenaikan harga kebutuhan pokok yang juga akan mempengaruhi tingkat daya beli masyarakat dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Dilihat dari perbandingan PDRB harga berlaku dan konstan, peningkatan yang lebih besar terjadi pada PDRB atas dasar harga berlaku. Ini menunjukkan adanya perubahan nilai rupiah atau terjadi inflasi. Dengan kata lain, rasio PDRB atas dasar harga berlaku dengan PDRB atas dasar harga konstan yang semakin tinggi menunjukkan adanya peningkatan biaya produksi.

Perkembangan laju inflasi di Kabupaten Intan Jaya mencapai  6,8%  didominasi  oleh  inflasi bahan makanan pokok, di antaranya adalah komoditas beras yang memberikan andil inflasi tertinggi. Inflasi di Kabupaten Intan Jaya berasal dari tingginya ekspektasi masyarakat akan barang-barang kebutuhan pokok serta mulai bergesernya pola konsumsi masyarakat dari pola tradisional ke  pola modern  atau  bahan makanan  non  lokal.  Misalnya,  masyarakat  mulai mengganti bahan makanan pokok berupa umbia-umbian dengan beras yang tidak diproduksi diwilayah Kabupaten Intan Jaya.

KONDISI LINGKUNGAN – TOPOGRAFI

Delapan puluh lima persen (85%) dari seluruh wilayah Kabupaten Intan Jaya berupa dataran tinggi dengan ketinggian di atas 500 mdpl. Sementara itu, wilayah dataran rendah yang berada pada ketinggian di bawah 500 mdpl – hanya sebesar 15% dari total wilayah Kabupaten Intan Jaya. Wilayah dataran tinggi didominasi oleh area dengan ketinggian >500 sampai 2500 mdpl yang luasnya mencapai 75% dari total wilayah keseluruhan. Wilayah dataran sangat tinggi dengan ketinggian 3000 – 3500 mdpl, yang sebagian besar berada di wilayah paling selatan (Distrik Ugimba), memiliki luas wilayah yang relatif kecil yaitu sebesar 7%. Sementara ketinggian 3.500 – 4.000 sebesar 3% dan wilayah tertinggi di kabupaten ini

Luas Wilayah Berdasarkan Topografi

KETINGGIAN (mdpl)PERSENTASE (%)LUAS (Ha)
0 – 50015114.855,8
500 – 100016125.759,8
1000 – 150016126.306,0
1500 – 200015122.033,6
2000 – 250015118.172,4
2500 – 30001399.801,7
3000 – 3500754.071,0
3500 – 4000322.130,5
4000 – 450017.392,8
4500 – 50000472,7
Total Luas100790.996,3
Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

Kondisi topografi kabupaten berdasarkan ketinggian cenderung naik ke arah selatan atau ke arah Puncak Carstensz. Sementara ketinggian dataran cenderung menurun ke wilayah utara atau Distrik Tomosiga yang berbatasan dengan Kabupaten Waropen.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

KONDISI LINGKUNGAN – GEOLOGI

Formasi geologi memberikan informasi penting mengenai struktur batuan yang membentuk suatu wilayah dataran tertentu. Untuk formasi geologi yang ada di Kabupaten Intan Jaya dapat dilihat pada gambar peta di bawah ini.

Luas Formasi Geologi Kabupaten Intan Jaya

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015
Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

HIDROLOGI – DAERAH ALIRAN SUNGAI

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah kawasan yang menerima, menyimpan dan mengalirkan air dan kemudian membentuk sistem aliran air. Daerah Aliran Sungai sangat bermanfaat untuk berbagai kegiatan seperti mengaktivasi lahan pertanian, perkebunan serta permukiman. Hal tersebut terjadi karena DAS adalah sebuah sistem yang membuat air mengalir pada jalur tertentu sehingga mudah ditentukan di mana titik-titik yang sumber airnya sebagai syarat dalam pemanfaatan lahan.

Sistem Wilayah Sungai Kabupaten Intan Jaya

Wilayah Kabupaten Intan Jaya dilewati oleh 3 DAS yaitu DAS Tarikuhulu, DAS Waneri, dan DAN Wapoga. Tiga DAS tersebut dibagi ke dalam 2 Sistem Wilayah Sungai (SWS) yaitu SWS Memberamo-Tami-Apauvar dan SWS Wapoga-Mimika. Sistem Wilayah Sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai. Sistem Wilayah Sungai  Memberamo-Tami-Apauvar lebih luas dibandingkan SWS Wapoga-Mimika sebesar  66%  dari total SWS keseluruhan  yang  melingkupi sebagian Tomosiga, Mbiandoga, Homeyo, Sugapa, Hitadipa serta keseluruhan Agisiga. Sementara luas SWS Wapoga-Mimika 34% dari total SWS keseluruhan yang melingkupi Mbiandoga, Wandai, Homeyo serta keseluruhan Ugimba.

KLIMATOLOGI

Wilayah Kabupaten Intan Jaya relatif lebih dingin dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. Hal tersebut dipengaruhi oleh letak wilayah Kabupaten ini yang berada pada ketinggian rata-rata di atas 1500 mdpl. Detail mengenai kondisi iklim di Kabupaten Intan Jaya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Kabupaten Intan Jaya merupakan daerah dingin dengan suhu rata-rata berkisar 19,2° sampai dengan 25,5°C. Suhu udara maksimum adalah 29,5°C, sedangkan suhu minimum adalah sekitar 11,5°C. Kelembaban udara maksimum terjadi pada bulan Mei, sementara angka kelembaban minimum terjadi pada bulan Oktober. Kecepatan angin maksimum terjadi pada bulan Desember kecepatan Angin Minimum terjadi pada bulan Maret.

KAWASAN RAWAN BENCARA

Dilihat dari topografi wilayahnya, Kabupaten Intan Jaya memiliki dua potensi bencana yaitu bencana banjir di wilayah dataran rendah serta bencana longsor di daerah dataran tinggi.

  1. Kawasan Rawan Banjir

Wilayah Kabupaten Intan Jaya sebagian besar berada pada wilayah dataran tinggi (diatas

500 mdpl). Hal tersebut menjadikan resiko bencana banjir di Kabupaten Intan Jaya sangat rendah.   Akan tetapi, resiko bencana banjir tetap harus diperhatikan karena sebagian wilayah masih tergolong sebagai wilayah dataran rendah. Persentase kawasan rawan banjir sebesar 6% dari total luas wilayah keseluruhan atau sekitar 42.250,8 Ha. Satu-satunya distrik yang termasuk dalam kawasan rawan bencana banjir di Kabupaten Intan Jaya adalah Distrik Tomosiga. Hal tersebut karena sebagian wilayah Tomosiga berada pada ketinggian <500 mdpl atau masuk dalam kategori dataran rendah. Kawasan rawan bencana banjir lebih tepatnya terletak di sebelah barat laut, timur laut serta sebelah timur dari Kabupaten Intan Jaya.

2. Kawasan Rawan Longsor

Bencana longsor menjadi ancaman serius di wilayah Intan Jaya. Selain diakibatkan karena kondisi geografis seperti tebing yang curam, longsor bisa disebabkan karena pengelolaan alam yang tidak tepat sasaran. Wilayah Intan Jaya yang sebagian besar adalah pegunungan sangat potensial untuk terjadinya bencana longsor. Kawasan rawan bencana longsor di Kabupaten Intan Jaya adalah seluas 119,729,2 Ha atau sebesar 15% dari luas wilayah Intan Jaya keseluruhan. Kawasan rawan bencana longsor di Kabupaten Intan Jaya terletak  di sebelah  selatan  yaitu keseluruhan Distrik  Ugimba,  Homeyo, Wandai  serta sebagian Hitadipa.

Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015
Sumber : RPMJ Kab.Intan Jaya – 2015

TINGKAT KEMAHALAN KONSTRUKSI

Tingkat Kemahalan Konstruksi merupakan cerminan   dari   suatu nilai bangunan/konstruksi yang akan dibandingkan antar daerah, yaitu besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membangun satu unit bangunan/konstruksi per satuan ukuran luas di suatu kabupaten/kota atau provinsi yang diukur melalui sekelompok barang dan jasa yang digunakan. Indeks Kemahalan Konstruksi Provinsi Papua pada tahun 2015 adalah sebesar 247,91. Berdasarkan angka ini dapat dikatakan bahwa kondisi geografis Provinsi Papua paling sulit diantara 34 provinsi yang ada di Indonesia.

Pada tahun 2015 Indeks Kemahalan Konstruksi Kabupaten Intan Jaya adalah sebesar 424,02. Angka ini menunjukkan bahwa Kabupaten Intan Jaya menempati urutan kedua berdasarkan level provinsi maupun nasional. Sebagai gambaran bahwa secara garis besar semua barang yang masuk di Kabupaten Intan Jaya berasal dari Kota makassar dan Surabaya yang di distribusikan melalui sarana transportasi laut ke kabupaten Nabire. Barang dari Kabupaten Nabire dapat di distribusikan ke Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya dan beberapa Distrik yang terdapat di dalamnya hanya melalui transportasi udara dengan waktu tempuh yang relatif singkat dan biaya angkut yang relatif mahal.

Berdasarkan kondisi arus barang di kabupaten Intan Jaya dapat dikatakan bahwa Kabupaten Intan Jaya memiliki indeks atau tingkat kemahalan konstruksi yang cukup tinggi yang di sebabkan oleh kondisi geografis yang sangat sulit sehingga distribusi barang sebagian besar menggunakan transportasi udara.